Jumat, 15 Oktober 2010

Renungan Jumat: Berbagi tak Pernah Rugi

Sebagai manusia, kita diberikan beberapa kelebihan yang, kadang, tidak kita sadari bahwa itu adalah potensi diri. Allah Swt menciptakan setiap manusia dengan beberapa kelebihan yang spesifik. Charmed!!! Bakat, jika kita sebut dalam bahasa sehari-hari. Atau talenta jika kita ingin menyebutkan dengan bahasa yang lebih unik. Atau anugerah, jika kita istilahkan lebih dalam lagi. Tidak semua orang, memiliki bakat yang sama. Unik, menarik, dan spesifik. Itulah ciri bakat atau talenta yang dimiliki setiap orang.


Berbagi dengan sesama, tidak harus dalam bentuk materi. Berbagi ilmu melalui tulisan, berbagi pemikiran dan pengetahuan melalui kajian, berbagi kebisaan yang kita punya untuk kebahagiaan sesama mungkin bisa bernilai pahala juga di mata Allah SWT. Siapapun yang terlahir ke dunia ini diberikan kelebihan oleh Allah SWT. Begitupun dengan kita. Misalnya kita diberikan satu kekurangan, pasti lah kita diberikan kelebihan oleh-Nya. Nah, kita bisa menggunakan kelebihan kita itu untuk berbagi terhadap sesama. Janganlah melulu meratapi kesedihan bahwa kita mengalami kekurangan, tidak sama dengan yang lain, diberikan perbedaan oleh Allah SWT. Tapi syukuri-lah apa yang telah diberikan-Nya untuk kita sambil terus menggali potensi diri kita, apa sebenarnya kelebihan kita tersebut. Jika berasa tidak mudah menemukan apa kelebihan atau bakat kita, coba minta kepada teman terdekat kita untuk memberi tahu apa sebenarnya bakat kita. Gunakanlah bakat atau kelebihan tersebut untuk membantu sesama manusia.

Salah satu ustad ternama, Ust. Yusuf Mansyur selalu membagikan pengalamannya bahwa berbagi memang tak pernah rugi. Dalam setiap kajiannya, ustad muda ini selalu memberikan pencerahan bahwa ketika kita berbagi dengan sesama, maka Allah yang akan mengganti dengan penggantian yang tidak pernah terduga. Haisu la yahtasib. Rejeki yang tidak diduga-duga sebagai bentuk pergantian Allah atas apa yang sudah kita berikan kepada orang lain. Selaku mahluk sosial, kita diberikan rasa simpati dan juga empati terhadap sesama, sehingga kita diajarkan untuk membantu sesama, tak peduli apakah kita memiliki kekurangan ataupun kelemahan. Justru, dengan berbagi apa yang kita miliki, entah itu ilmu ataupun harta, kita akan selalu bersyukur. Dan kita tidak akan terlalu terganggu dengan kekurangan yang kita miliki.

Dalam salah satu bukunya ust. Yusuf memberikan sebuah nasihat untuk kita, dan rasanya sayang jika tidak saya bagikan kepada teman-teman, dan menjadi bahan perenungan untuk kita semua. Begini kalimat yang dituliskan ust. Yusuf:

“Ajari kaki menginjak debu, biar menaruh rasa pada yang tidak beralas. Biarkan angin membelai tubuh, supaya mata melirik pada mereka yang tidak berpakaian. Sesekali kosongkan perut, biar terasa rintihan kelaparan. Tidak akan pernah kita iba melihat kemiskinan bila sedetik pun tidak mau meninggalkan istana. Kita tidak mau sujud tersungkur bila kita tidak merasa di bawah. Haruskah tangan Tuhan bermain? Haruskah menjadi miskin dulu untuk bisa merasakan tangis kesusahan? Haruskah bibir kita dikunci terlebih dahulu biar tidak tenggelam dalam tawa berkepanjangan? Haruskah kita menjadi terhina dulu, untuk bisa mengulurkan tangan?….”

Sebuah kalimat kontemplatif yang cukup dalam yang menyentuh sisi hati kita selaku umat manusia. Kita diajak merenung bahwa kita layak bersyukur dengan apapun yang diberikan Tuhan untuk kita. Pantang mengeluh, meskipun beban terasa berat dan menyiksa. Kita diajak untuk membagikan kebahagiaan kita, meskipun sebenarnya kita merasa menderita dengan ujian yang sedang diberikan-Nya. Karena dengan membagi kebahagiaan, itu artinya kita sedang menarik magnet kebahagiaan untuk kita sendiri.



-Diambil dari nukilan artikel saya yang berjudul sama, berbagi tak pernah rugi.

Kaki manangel, des09.

Hadi - kompasianer yang sedang belajar berbuat baik terhadap sesama.

0 komentar:

Posting Komentar