Senin, 30 Agustus 2010

Om Dion dan Konservasinya


Sekarang sedang rame-ramenya di Unnes membicarakan tentang keputusan Rektor no 14 tahun 2010, yaitu tentang penggunaan seragam bagi mahasiswa baru pada saat perkuliahan. Ada pro dan kontra tentang keputusan Rektor tersebut, dengan berbagai macam wacana. Untuk lebih lengkapnya silakan baca media-media yang ada di Unnes baru-baru ini. Karena saya tidak akan membahas tentang kebijakan tersebut, tetapi coba kita kaji tentang pola pikir orang nomor satu di Unnes ini.

Kita ingat kembali bagaimana rumusan konservasi muncul (dilihat dari pandangan subjektif penulis), isu konservasi digulirkan om Dion menjelang kepemimpinan beliau hampir berkahir diperiode pertama kemarin. Isu ini baru muncul setelah beliau beberapa kali menggulirkan isu tentang arah kebijakan kampus ini, diantaranya jargon Sutera diawal kepemimpinan beliau, kampus bertaraf internasional, sampai green religious campus. Walaupun sebenarnya dari isu-isu ini bisa saling dikaitkan, tetapi kita secara jelas di perlihatkan bagaimana isu itu berubah secara bahasa luar.

Dari sini kita bisa ambil pelajaran, ternyata butuh waktu yang cukup lama dalam menentukan arah kebijakan sebuah lembaga, sekapasitas om Dion, tentunya dengan team beliau, baru dapat menemukan pijakan yang paling tepat untuk saat ini, membutuhkan waktu hampir empat tahun.

Kemudian saya berpikir, bagaimana dengan lembaga kemahsiswaan yang setiap tahunnya terjadi pergantian kepengurusan? Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi dinamika mahasiswa dalam mengawal kebijakn-kebijakan birokrat kampus. Sehingga, sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari kampus, terutamanya aktifis, harus banyak-banyak memforsir pemikiran meraka untuk mampu mengimbangi kebijkan dari birokrasinya. Membutuhkan modal mental yang tangguh, serta disesuaikan dengan pemikiran inofatif berbalut polotisasi kampus.

Kembali ke konsep konservasi om Dion.
Awal kebijakan ini muncul, tidaklah semulus yang kita lihat sekarang. Pro dan kontrapun terjadi. Tetapi, sekarang kita bisa melihat, siapa yang berani “melawan” konservasi? Semua terdiam seolah mengatakan, salam konservasi.

Ini menunjukan bagaimana komitmennya om Dion dalam melangkahkan kakinya menjalani kebijakan yang beliau yakini kebenarannya. Walaupun anjing menggong, kafilah tetap berlalu, mungkin inilah peribahasa yang pas pada saat ini. Karakter kepimimpinan sepertilah yang menjadi ajang kesuksesan beliau menjadi orang nomor satu untuk kedua kalinya.

Nah, sekarang kita uji om Dion dengan kebijakan barunya ini. Mampukah seragam bertahan hingga akhir kepemimpinan beliau, sehingga ketika perpisahan nantinya banyakk yang berpikir, “andai Rektor boleh menjadi pemimpin seumur hidup”.
Hanya waktu yang akan menjawabnya….
Selamat berkarnya Prof. DR. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

0 komentar:

Posting Komentar